Hosting Unlimited Indonesia
Edukasi Budaya

Penyelundupan Narkoba di Indonesia Meningkat, Ternyata Ini Penyebabnya

JURNALITE.com — Indonesia saat ini sudah masuk menjadi negara darurat narkoba. Hal tersebut dikarenakan angka penyalah guna narkotika di Indonesia pada survei tahun 2015 mencapai 2,20 persen atau lebih dari 4 juta orang.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, serbuan masuk narkotika dan obat-obatan terlarang semakin masif ke Indonesia seiring dengan meningkatnya jumlah kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Sri Mulyani Indonesia saat ini menjadi salah satu target pasar narkoba internasional, seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya jumlah kelas menengah baru.

“Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan meningkatnya middle class justru memberikan prospek bagi pasar psikotropika,” kata Sri Mulyani Jumat (18/11/2016).

Menurutnya, jumlah penyelundupan narkotika dan obat terlarang ke Indonesia yang makin meningkat setiap tahunnya telah menunjukkan bahwa para pelaku kejahatan berani mengambil risiko untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan barang terlarang tersebut.

Peningkatan penyelundupan itu terlihat dari hasil penindakan narkoba secara nasional yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan selama periode 2014-2016.

Pada 2014, jumlah penindakan mencapai 216 kasus dengan total barang bukti sebanyak 316,06 kilogram, pada 2015 mencapai 176 kasus dengan total barang bukti sebanyak 599,75 kilogram dan hingga November 2016 mencapai 223 kasus dengan total barang bukti sebanyak 1.072,55 kilogram.

“Kenaikan tiga kali lipat barang bukti yang disita sejak 2014, menggambarkan Indonesia terancam oleh bahaya narkoba dan menjadi destinasi pasar yang luar biasa bagi sindikat internasional,” kata Sri Mulyani.

Sulawesi Selatan, 90% Pengguna dan Pengedar Narkoba Usia Produktif

Berdasarkan data Biro Napza dan HIV AIDS Pemprov Sulsel menyebutkan 90 persen pengguna dan pengedar narkoba yang terdeteksi, tertangkap, dan telah menjalani rehabilitasi adalah laki-laki, dengan usia yang masih produktif.

Yakni di kisaran 30 tahun ke bawah dengan kategori pekerjaan wiraswasta dan pengangguran yang paling banyak menggunakan narkoba.

Hal ini menunjukkan, posisi laki-laki yang lebih mudah bergaul, bisa masuk di berbagai lingkungan, menjadi sasaran empuk pada pengedar narkoba.

Sementara itu jika mengacu pada fakta yang diungkap oleh aparat Polda Sulsel. Kepolisian merilis pada Triwulan I/2016 penyalahguna narkoba di Sulawesi Selatan didominasi tamatan Sekolah Dasar (SD). Dari 577 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam rentang triwulan I/2016.

Ditinjau dari aspek pendidikan, tersangka didominasi tamatan SD sebanyak 217 orang. Sedangkan tersangka yang tamatan SMP berjumlah 140 orang, tersangka yang berpendidikan setingkat SMA sebanyak 185 orang dan tersangka yang jenjang pendidikannya hingga setingkat perguruan tinggi (PT) ada 36 orang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

loading...
To Top